Banyak dampak yang ditimbulkan dari migrasi ini, baik dampak positif maupun dampak positif. Salah satu dari dampak negatifnya adalah semakin banyaknya timbul kejahatan. Karena banyaknya penduduk yang bermigrasi disebuah tempat akan bertambah pula persaingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berbagai cara manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
Dari yang halal sampai yang haram juga dilakukan. Sehingga banyak juga orang berpikir untuk melakukan hal yang negatif.
Biasanya orang-orang yang melakukannya adalah orang yang sudah berputus asa karena tidak bisa mendapat pekerjaan atau orang yang tidak mempunyai skil.
Sehingga mereka nekat melakukan kejahatan
.
Juga karena kemiskinan dan ketidak adilan sering ”jatuh bersamaan” dengan identitas sosial tertentu. Karena kebencian sosial yang tersembunyi, maka timbul suatu budaya merebaknya pengangguran. Secara sosiologis, penganggur adalah orang yang tidak memiliki status sosial yang jelas (statusless), sehingga tidak memiliki standar pola perlaku yang pantas atau tidak pantas dilakukan, cenderung mudah melepaskan diri dari tanggungjawab sosial.
Dalam kondisi yang ekstrim penganggur tidak peduli terhadap keteraturan sosial, dan bahkan menginginkan terjadinya “kekacauan sosial” (social disorder atau bahkan chaos) agar mendapat keutungan dari ketidak-teraturan itu
Hal ini juga terjadi di Indonesia, akibat ledakan penduduk di Jakarta menimbulkan Jakarta menjadi sangat rawan kejahatan.
Bagaimana tidak, sebagian besar penduduk Indonesia merantaukan dirinya ke Jakarta untuk kehidupan yang lebih baik. Nyatanya, banyak juga yang semakin melarat sehingga tidak mampu untuk kembali ke kampung halamannya. Sementara penduduk dari daerah lain mulai berdatangan lagi dari seluruh penjuru Indonesia dengan berbagai kepentingan. Hal ini membuat Jakarta semakin padat bukan. Tidak heran kejahatan terjadi disetiap sudut kota Jakarta.
Kejahatan akibat migrasi penduduk ini sangat merugikan orang banyak, bukan hanya harta, tapi juga menyangkut nyawa seseorang. Kejahatan yang sekarang mereka lakukantentu akan dirasakan penurunan kualitas kehidupannya di masa depan. Ini tentu terkait dengan indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia juga terancam merosot.
Dampak berikutnya akibat skill SDM rendah, tingkat daya saing produktivitas pun akhirnya semakin sulit menduduki peringkat lebih tinggi mendekati Singapura, Malaysia dan Thailand yang saat ini sudah lebih unggul dari Indonesia.
Kejahatan juga tidak hanya dilakukan oleh orang kalangan bawah saja. Contohnya saja para koruptor.
Para koroptor inilah yang mengambil hak orang kecil sehingga hal yang burukpun dilakukan. Padahal pemerintah sering mengakui adanya kenaikan kesejahteraan masyarakat dengan indikator pendapatan per kapita yang sekarang mencapai US$ 3.000 atau setara Rp 2,7 juta untuk setiap penduduk per tahun. Tapi fakta ini bertolak belakang dengan realitas kemiskinan sebagian besar rakyat Indonesia.
Angka kemiskinan diklaim turun karena pemerintah memakai standar pengeluaran hanya Rp 8.000-an per hari, padahal standar Bank Dunia adalah rata-rata US$ 2 atau setara Rp 18.000.
Jadi semakin banyak jumlah penduduk yang mendatangi sebuah tempat, semakin besar pula kemungkinan kejahatan-kejahatan terjadi disekelilingnya. Karena semakin banyak orang semakin ketat persaingan hidup. Maka dari itu, dimanapun kita berada, kita harus berjaga-jaga untuk kejahatan-kejahatan yang mungkin mendatangi nanti.
Sumber :
www.wikipedia.org
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus